Star In The Sky

Showing posts with label Mind. Show all posts
Showing posts with label Mind. Show all posts

"Situasi di mana kita lihat tidak ada pilihan, sebenarnya merupakan pilihan Tuhan untuk diri kita, dan pilihan Tuhan itu selalu yang terbaik bagi kita. Hanya kita tidak dapat melihatnya saat berada pada situasi itu."

- taken from my friend's post
Read More …

Langit pun diam sejenak
Memberi waktu pada bintang
Untuk memahami semua keindahan ini
Memberi ruang pada bintang
Untuk terus berpendar dan melebur
Menjadi cahaya tak berujung

Berikan satu waktu
Untuk memahami ini semua
Untuk merenungi kepingan ini
Bahwa terang tak akan ada tanpa gelap
Read More …

Sukses. Sukses berarti berhasil. Berhasil mencapai sesuatu. Sukses dunia akhirat. Tentu itu impian semua orang. Namun apakah sebenarnya makna sukses? Apa makna kehidupan kita? Di umur - umur 20 something sepertiku (yeah, admit it, yu haha), pasti kita sedang mencari makna hidup, dan memperjelas tujuan hidup. Dengan mengetahui makna dan tujuan hidup, kita bisa menentukan langkah demi langkah ke depannya. Sementara itu, kita juga mencari kebahagiaan. Atau mungkin dengan sukses kita berharap mendapatkan kebahagiaan?

Apakah ada orang sukses yang tidak bahagia? Apakah ada orang bahagia yang tidak sukses? Mungkin kita beberapa kali mendengar ada orang yang sukses mencapai segala sesuatunya, tapi di dalam lubuk hatinya dia tidak merasa bahagia. Ada juga yang merasa hidupnya bahagia, namun dia tidak mencapai kesuksesan. Jadi apa yang salah?

Mungkin yang salah adalah bagaimana kita mendefinisikan kata sukses dan bahagia itu sendiri. Bahwa sebenarnya mencapai kesuksesan berarti mencapai kebahagiaan. Bahwa sebenarnya mencapai kebahagiaan berarti mencapai kesuksesan. Dan bahwasanya makna sukses dan bahagia itu berbeda - beda pada diri setiap orang. Dan sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita tentukan makna sukses dan bahagia pada diri kita seperti apa.

Mungkin sekarang ini banyak teman - teman kita yang sudah sukses, atau sedang berusaha mencapai kesuksesan itu. Seperti di umurku sekarang ini. Banyak teman yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Ada juga yang sedang melanjutkan studinya di dalam negeri. Bahkan beberapa di antara mereka sudah menyelesaikan studi masternya. Ada juga yang sedang meniti karir di perusahaan, bahkan membangun perusahaan atau usaha sendiri. Iri? Tentu. Dapat melanjutkan studi di luar negeri merupakan salah satu mimpiku sejak dulu. Melihat teman satu persatu berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi mengingatkanku pada mimpi itu. Mimpi yang tenggelam oleh hal - hal lain yang mengisi pikiranku. 

Tapi kemudian, aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah dengan melanjutkan studi di luar negeri aku menjadi bahagia? Apa alasanku melanjutkan studi di luar negeri? Pikiranku kembali ke awal saat aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Menjadi dokter. Apa alasanku menjadi dokter? Dengan menjadi dokter, aku berharap dapat memberikan manfaat untuk sesama. Itu yang menjadikanku bahagia. Itu yang menjadikan hatiku damai. Aku memang bukan presiden yang dapat memberikan manfaat kepada seluruh warga di negaranya. Karena itu, aku berharap dengan hal - hal kecil yang dapat kulakukan dalam pekerjaanku sehari - hari ini, aku dapat memberikan manfaat. Maka, aku pun berpikir, kalau suatu saat aku sudah memutuskan mantap untuk melanjutkan studi di luar negeri (atau dalam negeri), itu karena memang aku ingin menuntut ilmu yang sesuai dengan yang aku inginkan, dan selanjutnya ilmu itu juga untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Bukan hanya prestige, bukan hanya gelar, bukan hanya latah, atau hanya sekedar mimpi. Dan tentunya Allah sudah menentukan waktu yang tepat untuk masing - masing orang. Semua akan indah pada waktunya. Jangan tergesa - gesa, jangan terlalu santai. Selalu bersiap - siap hingga saat itu tiba. Melihat ke atas itu penting, tapi jangan lupa bahwa penting juga untuk tetap melihat ke bawah. Kembali ke kata awal. Sukses = bahagia. Tapi jangan lupa juga untuk memperluas definisi bahagia kita. Jangan lupa untuk melibatkan hati dalam mendefinisikan bahagia kita. Bahwa bahagia tidak melulu soal materi. Hanya kita yang mengerti ketika kita sudah mencapai kata bahagia. Tanyakan hati nurani. Papa pernah mengatakan kepadaku bahwa setiap orang diberikan hati nurani yang tidak pernah salah. Yang banyak membuat kita tidak dapat mendengar hati nurani adalah stimulus - stimulus eksternal, seperti noda hitam mengotori kain putih yang bersih. Maka ada baiknya kita meluangkan waktu dan pikiran untuk kembali mendengarkan hati nurani. Ketika mendapatkan makna bahagia yang sesungguhnya, yang sesuai hati nurani, maka insya Allah kita akan mendapatkan bahwa kebahagiaan sejalan dengan kesuksesan.

Semoga kita semua senantiasa diberikan kebahagiaan dan kesuksesan oleh Allah. Baik di dunia, maupun di akhirat. Aamiin :)
Read More …

Bahagia itu tentang menemukan cara pandang terbaik.

-Delina (my cousin)
Read More …

How can we be so different and feel so much alike?

- Keara (Antologi Rasa)
Read More …

Suatu hari yang lalu, i had a very nice conversation with my daddy. I always love that quality time, one of the best time with my dad. That time, papa told me a story. A very good story. Jadi sayang banget kalau ga di-share, so i'll share it to you guys who read this (dengan bahasa gue sendiri hehe).

Dikisahkan ada seorang bapak yang sedang dicukur rambutnya oleh tukang cukur. Sambil mencukur, tukang cukur tersebut tiba - tiba berkata, "Tuhan itu ndak ada, Pak." Si Bapak mengernyitkan dahinya. "Maksudnya apa, mas? Kenapa mas bisa bilang begitu?" tanya si bapak heran. "Iya, Tuhan itu ndak ada. Coba aja Bapak lihat orang di sana," putus si tukang cukur sambil menunjuk ke tepi jalan di seberang barbershop itu. Si Bapak melihat ada seorang laki - laki, dengan tampilan lusuh, bajunya robek - robek dan kotor, dan jenggot yang begitu lebatnya serta rambut yang sangat lebat, panjang, dan tidak terurus, yang entah kapan terakhir kali orang tersebut mencukur jenggot dan memotong rambutnya. Laki - laki tersebut menengadahkan tangannya ke setiap orang yang melewatinya, cukup jelas bahwa dia adalah seorang pengemis yang sangat mengharapkan meski hanya sekeping uang logam untuk dapat mengganjal perutnya. "Kalau Tuhan ada, ndak mungkin ada orang seperti itu. Katanya, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Kalau Tuhan ada, Tuhan pasti mengasihi dan menyayangi setiap makhluknya, dan ndak membiarkan ada orang seperti itu yang hidupnya melarat dan meminta - minta di pinggir jalan,"  lanjut tukang cukur. Bapak itu kaget, baru kali ini mendengar logika seperti itu keluar dari mulut seseorang.

Lalu si Bapak berkata, "Mas juga nggak ada, Mas." "Maksudnya, Pak? Saya ada tho, Pak. Lho, ini saya lagi mencukur rambut Bapak. Bapak ndak rabun kan? Hehehe ada - ada aja Bapak," jawab si tukang cukur sambil cengengesan, dengan sebersit keheranan di pikirannya. "Iya, saya nggak percaya Mas ada," kata si Bapak pendek. "Waduh, kok bisa ndak percaya, Pak? Jelas - jelas saya di sini lagi motong rambut Bapak," sahut si tukang cukur, yang kali ini tidak bisa menyembunyikan keheranan atas perkataan si Bapak. "Coba Mas lihat lagi orang itu," kata si Bapak kembali menunjuk pengemis tersebut. "Kalau Mas ada, nggak mungkin ada orang yang jenggotnya lebat banget seperti itu, rambut awut - awutan panjang begitu. Jadi saya nggak percaya kalau Mas ada," kata si Bapak sambil tersenyum. Kali ini berganti, si tukang cukur yang kaget, menghela nafas panjang, dan akhirnya tersenyum puas. Ia mendapatkan jawaban penting dari pertanyaannya selama ini.

Jadi, Tuhan itu ada. Rasanya terlalu angkuh kalau manusia tidak mengakui keberadaan Tuhan, dengan segala berkah dan rahmat yang diberikanNya. Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk, tanpa terkecuali. Tapi apa yang membedakan nasib seseorang dengan orang lainnya? Yang pertama, jelas harus ada usaha. Usaha untuk meraihnya. Nasib si Bapak yang alhamdulillah lebih baik mungkin disebabkan usaha si Bapak yang lebih keras untuk meraih apa yang diinginkan, tidak seperti si pengemis yang hanya sekedar meminta - minta, tanpa berusaha lebih keras. Tapi kan ada orang - orang yang memang sudah kaya dari keturunannya? Tanpa harus berusaha lebih keras. Dan tentunya juga ada kan orang - orang yang kurang beruntung yang memang dilahirkan dengan kemiskinan? Ya, itu memang merupakan garis kehidupan yang sudah dituliskan Allah untuk kita semua. Merupakan bagian dari ujian dan pelajaran untuk manusia. Manusia harus berusaha untuk bisa mendapatkan yang ia inginkan. Begitu juga dengan si pengemis yang rambutnya panjang dan berantakan serta jenggot yang lebat. Dia tidak akan mendapatkan penampilan rambut dan jenggot yang rapi bila ia tidak berusaha untuk memotong atau meminta orang lain untuk memotong rambutnya, misal dengan mendatangi si tukang cukur.

Yang kedua, meminta lah kepada yang memberi. Kita tidak akan mendapatkan yang kita inginkan jika kita meminta ke yang lain, bukan ke yang memberi, karena hanya yang memberilah yang dapat memberikan yang kita inginkan. Kalau mau mendapatkan nasib yang baik, meraih apa yang kita inginkan, memintalah kepada Allah, karena hanya Allah yang bisa mengabulkannya. Datanglah kepadaNya, berdoalah, dekatkan dirimu kepadaNya. Begitu pula dengan penampilan si pengemis yang berantakan. Untuk mendapatkan menampilan yang rapi, seharusnya dia datang ke orang yang dapat merapikan penampilannya, misal ke tukang cukur tersebut. Kalau dia meminta ke orang yang tidak dapat merapikan penampilannya, seperti contoh ke tukang daging, haha, tentu dia juga tidak akan mendapatkan penampilan yang rapi.

Itu salah satu cerita yang pernah papa sampaikan. Real good story, ya? xoxo

Read More …

Tema dari tulisan kali ini tentang esensi, khususnya yang bakal gue tulis tentang esensi belajar. Kenapa tiba - tiba esensi belajar? Haha. Iya, ga lain karena emang dalam hidup, kita ga akan lepas dari belajar. Belajar untuk tau lebih banyak, belajar untuk jadi lebih baik, dan belajar untuk terus mendekatkan diri sama Yang Di Atas. Apalagi di dunia kedokteran ini, dari awal udah ditekankan sama pengajar - pengajarnya tentang "long life learning". Dan sebenarnya, kalau menurut gue, ga cuma di dunia kedokteran aja, di setiap aspek kehidupan seharusnya kita terus belajar untuk jadi lebih baik. 

Kalau esensi itu sendiri ya seperti yang kita ketahui, intisari, poin penting. Di dunia perkoasan ini, tiap hari kita dapat ilmu baru. Banyak sekali ilmu, mulai dari ilmu tentang keseluruhan biologi manusia, berbagai penyakit dengan segala hal tentang penyakit itu, etika, sampai ilmu tentang kehidupan yang dapat kita pelajari dari pasien, yang intinya satu: tentang bagaimana menangani pasien kita nanti dengan baik dan benar. Mungkin banyak yang dari kita sejak kecil sudah ditanamkan untuk "mengejar nilai". Gue sendiri, gue akui, dulu termasuk orang yang seperti itu. Karena dengan mengejar nilai berarti gue paham dan sekaligus juga tentunya membahagiakan orang tua yang bagi gue itu sudah seperti sebuah kewajiban. Sejak kecil juga mungkin kita semua sudah ditanamkan bahwa belajar itu kewajiban seorang anak. Mengejar nilai memang tidak ada salahnya. Asalkan kita tidak melupakan yang namanya esensi. Di dunia perkoasan ini, kalau kita melupakan esensi, maka yang kita dapat hanya seadanya, ya nilai. What you did is what you get. Orang yang menginginkan nilai, hanya akan dapat nilai. Namun nilai di tulisan ya hanya sekedar nilai. Nilai yang sesungguhnya adalah yang kita dapatkan nanti di kehidupan nyata. Orang yang sungguh - sungguh ingin belajar, dengan tujuan tadi, nantinya dapat menangani pasien dengan baik, tentunya tidak akan cepat puas dengan hasil yang ada. Karena untuk mencapai sesuatu yang 'baik' rasanya tidak akan pernah bisa, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk mendekati kata 'baik' itu. Dan untuk mendekati 'baik', butuh usaha, butuh keyakinan, dan butuh doa. Dunia perkoasan ini mengingatkan gue akan hal - hal tentang esensi belajar ini. Ga boleh menyerah atas apapun yang terjadi karena nilai di kertas hanyalah nilai ujian saat itu. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang selama ini kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, dalam hal ini menangani pasien. Lagi - lagi, what you did is what you get. Ngga ada kata sia - sia untuk semua hal baik yang pernah kita lakukan. Semua pikiran, tenaga (khususnya berhubung lagi di bedah haha), dan mental ini, ga akan terbuang begitu saja, asal bisa menangkap esensi dari semua ini. Bismillah, tetap semangat! :) xoxo
Read More …

Who

"Be yourself". But, the question is "who are you?" Ask your heart. And your brain.
Read More …

You are who you are when no one is looking.

- read somewhere
Read More …


Because no matter how painful it is.
It’s the only way we grow.


- Meredith Grey
Read More …

Suddenly, pengen nulis sesuatu. Iya, gue mau nulis nasihat - nasihat dan kalimat yg papa ucapin pas lagi mudik. Semoga tiap gue ngerasa kehilangan arah, gue bisa baca ini lagi dan kembali ke tujuan hidup gue.

"Jadi orang itu harus yang OUTSTANDING. Jangan jadi orang yang biasa - biasa aja. Bikin planning pertahun, apa aja yang mau dicapai. Untuk jadi outstanding, kamu harus ngerjain sesuatu di luar yang biasa. Misal kita punya target A. Mungkin kita bisa capai itu dengan dateng pagi, pulang sore (contoh). Tapi yang kita capai ya hanya si A itu. Kalau kamu mau jadi outstanding, mau capai AAA, kamu tentu harus melakukan lebih dari itu. Dan apa resikonya melakukan sesuatu yang di luar kapasitas kita?  Gagal! Tapi gagal itu perlu. Gagal itu yang akan menuntun kita ke kesuksesan. Tetap humble. Kalau udah ada sedikit kesombongan, rusak itu semua."

Ya itu sepenggal nasihat papa waktu mudik kemarin yang gue tulis sedikit, dengan sedikit editan, tapi tetep kalimatnya hampir sama. Papa emang sosok yang sempurna, sebagai ayah, istri, dan manusia. Hidupnya bener - bener untuk memberi manfaat ke orang lain. Kerja kerasnya, disiplinnya. Agamanya yang taat. Anak yang berbakti terhadap orang tua, sangat menyayangi istri, contoh teladan yang sangat baik untuk anak - anaknya, bermanfaat untuk sodara dan teman - temannya. Tetap rendah hati. Dari kecil, papa udah bisa menjadi contoh yang baik untuk sodara dan teman - temannya. Kalau diceritain disini, ngga abis - abis, dan pasti siapapun yang baca akan ikut kagum sama papa. We love you so much, Dad. Anakmu ini akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu, untuk bisa jadi sepertimu yang selalu berusaha yang terbaik untuk dunia dan akhirat. xoxo
Read More …


Whatever comes our way, whatever battle we have raging inside us, we always have a choice. It's the choices that make us who we are, and we can always choose to do what's right.


-Spiderman
Read More …

Ada cerita bagus banget dari dokter tutor gue, dr. Julius. Ceritanya tentang betapa besarnya kekuatan sugesti. Cerita ini fakta, hasil penelitian. Jadi ilmuwan - ilmuwan Inggris atau Amrik (lupa gue :p) melakukan penelitian. Beberapa ayam ditempatin di sebuah ruangan yang gelap. Terus mereka ditaburin salju. Hal ini dilakukan 1 jam setiap harinya selama 6 bulan. Nah setelah 6 bulan, ayam - ayam ini dikasi perlakuan yang beda. Mereka tetep ditempatin di ruangan gelap, tapi kali ini saljunya diganti kapas. Dan hasilnya? Beberapa hari kemudian, ayam - ayam ini mati. Dan yang mengejutkan, hasil otopsinya menunjukkan mereka mati karena beku. Wow. Subhanallah banget lah ya. Betapa sugesti punya kekuatan yang begitu besar. Intinya? Jangan takut bermimpi, bersugestilah. Karena keberhasilan itu datang dari sugesti dan pikiran - pikiran kamu. Itu juga yang nyokap gue selalu bilang :) xoxo
Read More …


Because in the end, everyone comes home.

-Paige
Read More …

As we all know, bencana alam lagi 'ramai' mendiami Indonesia :( Sedih, begitu banyak orang yang harus dikorbankan untuk gejala alam ini. Dan korbannya ngga sedikit. Mulai dari merapi, mentawai, wasior, banjir, itu semua bencana alam yang 'beriringan' melanda negeri ini. Kedengerannya aneh juga ya, kok bisa bencana - bencana alam itu bener - bener terjadi dalam waktu yang bersamaan :( Sedih banget rasanya, ingin berkontribusi banyak. Bener - bener pengen gue ngerasain jadi relawan, terjun langsung ke lapangan, bantu korban - korban bencana itu.

Kalau gue sendiri, menanggapi bencana alam itu, gue punya beberapa pemikiran (yang mungkin sama dengan kalian). God is talking to us, Dia sedang mengingatkan kita akan semua kesalahan - kesalahan di dunia ini, yang jumlahnya ngga sedikit. Mungkin Allah memang sedang mengingatkan Indonesia secara khusus, dan mengingatkan dunia secara umum. And we have to pay attention and notice it. Dia juga mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan, bahwa kehidupan yang sebenarnya itu adalah di akhirat kelak. Honestly, gue sempet punya pikiran parno or whatever you call it, karena ya coba aja dipikir sederhana, kalau semua tempat di Indonesia tertimpa musibah bencana alam (nauzubillah), terus kita mau tinggal di mana dong? Apalagi katanya karena jenis pegunungan di Indonesia itu saling beriringan, maka kalau satu pegunungan aktif atau meletus, gunung - gunung yang lain akan ikut mengalami hal yang sama. Serem ngga sih? Tapi setelah itu gue mikir juga, kalau bencana alam kayak gini rasanya nggak cuma di Indonesia, ke Amerika juga sering kena badai dsb. Jadi maksud gue, nyari tempat yang 'truly safe' di dunia itu nggak ada. Karena hidup di dunia itu memang cuma sementara, dan Allah sudah menuliskan garis kehidupan kita masing - masing. Jadi yang harus dipikirkan sekarang ya cuma berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal yang kita lakukan. Gue punya quotes hasil karya pemikiran gue sendiri nih (hehe), "Hidup ini terlalu sempit untuk berkeluh kesah." Ngga ada gunanya omdo atau apapun di dunia ini, karena hidup kita sangat sempit dibandingkan dengan kehidupan kekal nanti, yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan waktu yang sempit dengan 'tindakan nyata'. Action is so much better than just words. Ya Allah, kalau ini memang jalanMu, permudahkanlah. Berikanlah keselamatan untuk saudara - saudara se-Tanah Air Indonesia dan di seluruh dunia. Amiin :) xoxo
Read More …


Bintang yang mempertemukan kita.
Read More …


The key to surviving a surgical internship is denial. We deny that we're tired, we deny that we're scared, we deny how badly we want to succeed. And most importantly, we deny that we're in denial. We only see what we want to see and believe what we want to believe, and it works. We lie to ourselves so much that after a while the lies start to seem like the truth. We deny so much that we can't recognize the truth right in front of our faces.

-Meredith Grey
Read More …